Nyanyian Hati
Malam gelap telah hadir menyapaku. Sang kodok pun mulai bernyanyi sendu diiringi lantunan gemericik air hujan yang turun dengan mesra nya. Bertanda nyanyian kesunyian hati akan ku dengar lagi. Seolah-olah mengerti suasana hatiku yang merasa hampa saat malam tiba tanpa bintang. Dia masih saja malu dan bersembunyi di balik awan hitam.
Ku coba tuk menutup mata. Berharap aku bisa meleyapkan kehampaan hati karena bintang tak kembali hadir menyapaku malam ini. Sekuat hati menendang rasa hampa itu pergi jauh-jauh dari hatiku. Ku ingin damai yang kan tercipta walau tanpa bintang. Tapi, mengapa rasa rindu yang merasuk ke dalam kalbu? Seakan percuma, apapun yang ku lakukan untuk membunuh rasa itu dan kembali kuatkan hati agar terhindar dari kerinduan hati. Tetap saja bintang itu terus menari-nari di dalam hati, pikiran dan perasaanku. Dia berhasil bermain-main di hatiku. Membuat aku semakin bodoh kehilangan akal sehat untuk berpikir bahwa bintang akan hadir di saat titik-titik air turu dari langit.
Lalu ku bisikkan kata-kata kepada angin malam, moga ia dapat menyampaikannya kepada bintangku.
“Bintang di langit…
Sungguh pesonamu menyita hati, pikiran dan perasaanku.
Mengurung aku dalam tembok-tembok rindu yang jauh di relung hatiku.
Di dalam batas asa yang mungkin tak akan pernah menjadi nyata”.
Kata-kata ini ku rangkai untuk seseorang. Aku sangat merindukannya. Ntah kapan aku bisa kembali menyapanya kembali. Moga anngin malam benar-benar menyampaikan pesanku untuknya.
About this entry
You’re currently reading “Nyanyian Hati,” an entry on Feliris
- Telah Diterbitkan:
- Januari 13, 2009 / 12:15 pm
- Kategori:
- Omelan qu`
- Kaitkata:

2 Komentar
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]