Endy Terkasih
Tit tit tiiiiiit…………….
“Tiyuuus…… Aa’ dah datang nih, dek. Cepatan dunk!!” teriakan Endy dari dalam mobil kodok ungu kesayangannya. Aku pun buru-buru memakai sepatuku dan langsung menuju mobil butut kesayangan sobatku yang satu itu. Ternyata sudah ada Vida yang lebih dulu nongkrong di mobil itu.
“Cerewet banget sih jadi cowok. Lagian ngaku-ngaku Aa’ aku, Aa’ dari mana??” celotehku sambil naik mobilnya.
“Aa’ dari Hongkong……” jawabku dan Vida serentak.
” Eh, udah pernah dengar cerita….. ” tanya Endy belum selesai.
“Udah” jawabku dan Vida barengan lagi.
“Mau dengar cerita Ndy ga sih?” tanyanya dengan nada ngambek.
“Iya deh, apaan sih aa’ ku?” tanyaku lagi sambil memeluknya dari belakang jok kursi mobilnya.
“Kemarin tuh ada yang curhat ma Ndy, ada cewek Jawa kawin dengan cowok Batak. Lalu di malam pertama mereka, si cewek bilang….” Endy menggantungkan ceritanya.
“Pasti porno nih” kataku ketus.
“Yee, Ndy kan belum selesai cerita. Terus si cewek bilang ‘udah toh mas…! Udah toh mas..!’ Terus si cowok bilang ‘Bah! Siapa Tomas, aku nih Tobing! Selingkuh kau ya?’lanjut Ndy kemudian.
“Hahahaha….” Tawa kami pun pecah saat itu.
“Bo’ongan kan ceritanya?” tanya Vida sambil tertawa.
“Iya, Ndy nyontek dari buku.” Jawabnya dengan bangga.
Dasar, temanku satu ini emangsok lucu gitu padahal garing banget kan ceritanya. Mana hasil contekkan lagi. Tiba-tiba perasaanku jadi ga enak.
“Tunggu tunggu. Ndy, nih mobil udah di servis kan?” tanya ku.
“Tenang Tiyus, Udah aa’ servis kok kemarin. Dijamin ga bakal dorong lagi deh.” Jawabnya sambil memainkan matanya ke arah ku.
Tiba-tiba mobil Endy ngadat dan berhenti di tengah jalan.
“Loh, napa lagi nih Ndy? Baru aja ditanya kok dah ngulah.” Kataku.
“Ga tau nih.” Sambil garuk-garuk kepala lalu tersenyum ke arah aku dan Vida. Tanpa dia berkata aku dan Vida pun mengerti kalau kami harus ngedorong mobil tua kesayangannya itu. DASAR MOBIL BUTUT.
Begitulah setiap harinya kisah persahabatan kami. Aku yang punya badan kecil selalu dipanggil TIYUS (Tia kuyus). Itu julukkan dari si mulut besar Endy. Endy temanku dari SMP dan bareng lagi waktu SMA. Cowok yang paling ganteng di sekolah, yang menjadi pujaan setiap cewek-cewek. Kadang aku pengen muntah kalau dia udah dipuji-puji sama cewek-cewek. Padahal kalau aja cewek-cewek itu tau kalau Endy tuh comel banget, pasti pada kabur semua. Nah. kalau temanku Vida beda lagi, cewek satu ini tuh lembut banget, pintar, cantik, sabar kalau sedang berhadapan dengan comelnya Endy. Dia teman dekat aku dari SD bahkan SMP dan SMA pun bareng lagi. Cuma dia deh yang betah berteman dengan aku yang tomboy, pemalas dan ga pernah bisa dandan.Hehehe jadi malu. Terus, karena kami bertiga dekat banget, teman-teman sekolahku juluki kami keluarga bahagia. Mengapa? Karena istri tua dengan istri muda adem ayem. Aku istri tuanya dan Vida istri mudanya. Amit-amit cabang bayi, jangan sampai deh jadi istri si comel itu.
Hampir enam tahun aku dan Endy sahabatan. Sebentar lagi kami bertiga tamat sekolah, aku pengen melanjutkan kuliah di UGM ambil Psikologi, Vida dan Endy mau ambil kedokteran di UI. Banyak yang bertanya ma aku, ‘kenapa ga di jadikan pacar aja, kan dia baik, kan dia ganteng.’ Wuih malas banget dengarnya. Tiba-tiba si comel datang nimpuk aku pake bola kakinya.
“Yus, kok ngelamun. Ntar malam jalan yuk. Ndy pengen banget makan bakso mang Ujang. Mau ya. Okey.” ajaknya agak maksa.
“Ajak Vida ya.” Pintaku.
“Ga usah deh, Ndy pengen berdua aja ma istri tua Ndy.” Katanya sambil merangkul bahuku.
“Ya udah, jemput aku jam 7 tapi ga pake acara dorong lagi ya!” kataku sambil melototkan mataku.
“Beres bos, ntar malam kita naik kereta cepat Ndy.” Katanya dengan bangga. Aku Cuma manyun, apanya yang cepat kalau perginya naik Vespa, sama aja kale dengan naik mobil bututnya. Ganteng-ganteng bawaannya butut melulu.
“Enak ga, Yus? Kok makannya dikit banget? Lagi diet nih, mo susut gimana lagi sih yus?” ledeknya ngeliat aku yang biasanya hoby makan bakso tapi malam ini ga bisa habisi satu mangkok bakso. Ga tau napa, perasaan sedih menghadapi perpisahan itu semakin terasa di benakku. Aku begitu takut kehilangan sahabat-sahabatku.
“Teman dekat boleh dunk pegangan tangan? Sini Endy mau tunjukkan sesuatu.” Katanya begitu lembut, ga biasanya dia begitu dan aku pun ga menolak saat jemariku di genggamnya. Dan megapa jantungku berdetak kencang ya?
“Lihat deh, di antara bintang itu ada satu bintang yang terang banget dan paling besar.” Katanya sambil menunjuk satu bintang yang berkelip.
“Ntar kalau kita udah jauh, kalau kangen ma Ndy, pandangi aja langit, cari bintang yang paling terang, lalu pejamkan mata, buatlah permintaan dalam hati, dan setelah itu buka mata Tia, Ndy pasti ada di situ.” Katanya sambil tetap melihat ke langit tanpa melihat aku. Aku sempat terbawa suasana yang aneh banget untukku. Belum pernah aku ngerasa tenang banget di samping mulut besar satu ini.
“Tau ga, selama ini Ndy sayang banget ma Tia. Ndy pengen selalu ada di samping Tia, ngejaga Tia, dan bisa selalu buat Tia bahagia.” Katanya lagi tapi kali ini dia mengatakannya dengan menatap mataku.
Aku yang sempat ga sadarkan diri, akhirnya berkata “Gila, rayuan mautnya keluar. Dapat contekkan dari mana nih?”
“Ndy dapat kata-kata ini dari Tia, setiap ngeliat Tia kata-kata itu selalu hadir, Ndy ingin menjadi orang yang paling dicintai Tia tapi Ndy ga pernah punya keberanian untuk ungkapin ini semua.” Katanya.
“Tapi, aku ga ngerti. Aku ga bisa ngomong apa-apa.” Kataku dengan muka culunku.
Ndy tersenyum dan berkata “Ndy ga minta Tia ngomong sesuatu. Ndy Cuma pengen jujur sebelum kita pisah nanti.” katanya.
Aku masih terdiam, muka Ndy begitu serius mengatakan semunya.
“Tenang, Yus. Ga usah dipikirin. Gimana pun Ndy yakin, Ndy tetap jadi cowok yang paling ganteng dan bakalan dikangenin ma Tia.” Katanya sambil tertawa dan mulai lagi deh comelnya.
Gila, sudah seminggu berlalu, tetapi aku masih teringat dengan kata-kata Endy. Bahkan aku sekarang merasa rindu, ingin mendengarkan lagi kata-kata itu. Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi. Apa aku juga merasa yang sama dengan dirinya? Ga, itu ga boleh terjadi. Dia adalah teman dekatku, ga mungkin bisa menjadi kekasihku. Tapi gimana pun aku harus mengatakan semua perasaan aneh ini ke Endy sebelum aku berangkat ke yogja. Biar beban pikiran ini menghilang, dan aku kembali normal tanpa perasaan aneh ini.
Tok tok tok.
Tiba-tiba pintu kamarku bersuara.
“Siapa?” tanyaku.
Wuih, kepala Vida nimbul di balik pintu.
“Lagi ngapain sih? Vida pengen curhat nih.” Katanya sambil berbaring di kasurku yang empuk tanpa ku persilahkan masuk.
“Salah ga sih kalau kita suka ma sobat kita sendiri?” tanyanya.
Aku terkejut, seumur-umur aku temanan ma Vida, dia belum pernah jatuh cinta. Pernah sih, tapi itu waktu SMP. Itu juga karena aku yang maksa-maksa dia untuk terima cowok itu.
“Ce ile, lagi jatuh cinta nih, non? Sama siapa?” tanya ku sambil menggodanya.
“Vida ga tau dari kapan merasakan perasaan ini. Vida ngerasa aman bila di dekat cowok ini, Vida pengen selalu berada di sampingnya dan bahkan Vida cemburu bila dia dekat dengan cewek lain. Vida pengen dia jadi pacar Vida. Vida yakin dia adalah cowok yang terbaik untuk Vida, karena dia berhasil merebut hati Vida.” Ceritanya panjang lebar sambil memeluk Katty, boneka kesayanganku.
“Siapa sih cowok yang beruntung itu?” tanyaku kembali.
“Endy” jawabnya pelan.
Mataku melotot, jantungku seketika berhenti berdetak dan dadaku terasa sesak mendengar nama orang yang dicintai sahabatku. ‘Endy?’ cowok yang juga udah mengacaukan hati dan perasaanku. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
“Tia, kok diam sih? Salah ya kalau Vida suka sama Endy?” tanyanya.
“Ga kok say, Endy pantas ngedapati cewek sebaik Vida. Kalian pasti cocok kok.” Jawabku sambil merangkulnya.
Malam itu adalah malam saat hatiku berkata untuk mengatakan apa yang aku rasa pada Endy dan sekaligus malam saat hatiku berkata bahwa aku harus mengabaikan semua perasaanku dan aku harus pergi meninggalkannya. Menghilang tanpa harus jujur dan tanpa meninggalkan jejak, agar Endy dapat merasakan cinta Vida yang tulus unutuknya.
Hari ini adalah pengumum kelulusanku. Di satu sisi hatiku begitu bahagia, karena aku lulus sekolah dan bisa melepaskan seragam putih abu-abu itu menjadi anak kuliahan. Tapi di sisi lainnya aku merasa sedih karena harus meninggalkan Endy tanpa mengatakan kalau aku pun ternyata menyayanginya.
Hari ini aku tidak ingin berjumpa dengannya. Aku harus pulang ke rumah dan segera berangkat ke Jogja tanpa menemuinya untuk pamit. Samar-samar aku mendengar suaranya memanggil namaku. Aku tau dia ada di belakangku. Tapi aku tak menghiraukannya dan langsung pergi dengan mengendarai mobilku. Dengan laju ku tancap mobilku, aku benar-benar ingin menghilang darinya. Ternyata dia mengejarku dengan Vespanya, dan aku tetap melaju. Sampai aku melewati persimpangan, aku tak melihatnya lagi dari kaca spionku. Pasti dia tertinggal jauh, karena dia hanya mengejarku dengan Vespa. Dan akhirnya aku pergi meninggalkan kota ini.
Setahun telah berlalu. Aku benar-benar menghilang dari mereka. Bahkan sampai di Jogja pun aku tak berusaha menghubungi mereka. Dan aku juga meminta keluargaku untuk merahasiakan alamat dan nomorku di Jogja, alas an yang ku berikan hanya karena ingin konsentrasi kuliah tanpa ada yang mengganggu.
Sekarang aku kangen banget kotaku. Aku pulang ke kota kelahiranku yang penuh dengan kenangan bersama Endy dan Vida. Apa kabar mereka ya? Aku kangen banget ma mereka. Moga mereka baik-baik aja.
Sampai aku di bandara, dari kejauhan ada cowok separuh baya melambaikan tanganya kepadaku. Siapa dia? Karena aku penasaran aku berjalan mendekatinya.
“Tia kan? Apa kabar?” tanyanya sambil menyalamiku.
“Om Herman? Baik, Om. Om, dari mana?” tanyaku kembali. Ternyata dia ayah Endy.
“Dari Surabaya, ada tugas dari kantor.” Jawabnya.
“Gimana kabar Endy, Om?”tanyaku.
Wajah Om Herman yang ceria tiba-tiba menampakkan raut kesedihan.
“Ayo ikut Om.” Ajaknya lalu pergi tanpa menunggu jawaban apakah aku mau ikut atau tidak.
Aku pun akhirnya ikut bersama Om Herman. Sepanjang perjalanan aku dan Om Herman tidak pernah berbicara. Hanya sesekali kami saling bertatap mata. Aku pun pasrah kemana aku akan dibawa. Hingga mobil kami berhenti di sebuah pemakaman, aku masih tidak mengerti kenapa aku dibawa ke sini. Aku mengikuti langkah Om Herman, sampai ia berhenti tepat di sebuah makam. Tiba-tiba aku begitu lemas, sejenak aku tak dapat bernafas, dadaku terasa sesak, bahkan kakiku seperti tidak mampu untuk menopang badanku hingga aku berlutut di depan makam itu. Air mataku pun mengalir deras di celah-celah mataku, tak dapat ku bendung lagi. Aku terus menatap batu nisan itu, di situ tertulis ‘Hendy Prayoga’. Aku bagaikan disambar petir di siang bolong. Aku masih tak percaya bahwa ini adalah tempat perbaringan terakhir sahabatku.
“Endy kecelakaan saat mengejar kamu di hari kelulusan kalian. Dia begitu kencang membawa Vespanya dan waktu di persimpangan ada truk besar yang berbelok ke arahnya. Dan akhirnya kecelakaan itu terjadi.”cerita Om Herman dengan suara terbata-bata.
“Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit sampai dia menutup matanya, dia selalu memanggil nama kamu, Tia. Om sudah berusaha menghubungi kamu tapi Om tidak berhasil. Doakan saja dia Tia biar dia tenang di sana.” Kata Om Herman sambil pergi melangkah meninggalkanku di makam Endy.
Aku masih tetap tak percaya, ternyata aku benar-benar menjauhkannya dari hidupku, bukan hanya untuk sementara tetapi untuk selamanya. Aku menyesal karena aku belum mengatakan apa yang seharusnya aku katakan.
‘Endy’ sahabatku, maafkan aku yang tak berada di sampingmu saat detik-detik terakhirmu. Maafkan aku yang telah mengecewakanmu. AKU MENCINTAIMU SAHABAT SEJATIKU.
Tulisan ini terinspirasi dari curhatan teman awak yang kehilangan sahabat terdekatnya.
About this entry
You’re currently reading “Endy Terkasih,” an entry on Feliris
- Telah Diterbitkan:
- Desember 25, 2008 / 12:02 pm
- Kategori:
- Kursi Taman
- Kaitkata:

No comments yet
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]